JAKARTA - Optimisme moderat mewarnai proyeksi industri otomotif nasional menjelang tahun 2026 di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih. Pemerintah menilai tahun depan akan menjadi fase penting untuk menguji ketahanan dan arah pemulihan industri kendaraan bermotor.
Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan pola konsumsi masyarakat, sektor otomotif tetap dipandang memiliki peran strategis. Proyeksi penjualan mobil nasional pun disusun dengan mempertimbangkan realitas pasar yang masih berproses menuju stabilitas.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa penjualan mobil nasional pada 2026 ditargetkan mencapai 850.000 unit. Angka tersebut mencerminkan harapan akan adanya perbaikan kinerja industri dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan target tersebut, penjualan mobil nasional diproyeksikan tumbuh sekitar 5,4% dibandingkan realisasi sepanjang 2025. Pada 2025, total penjualan mobil tercatat sebesar 803.687 unit.
Pemerintah menilai target tersebut realistis dengan mempertimbangkan kondisi pasar terkini. Namun, capaian tersebut belum mencerminkan pemulihan penuh seperti sebelum pandemi.
Proyeksi Pertumbuhan yang Masih Bertahap
Agus mengungkapkan bahwa proyeksi penjualan 2026 menunjukkan pemulihan pasar otomotif yang berjalan secara bertahap. Pemerintah belum melihat sinyal lonjakan permintaan yang cukup kuat untuk mendorong penjualan ke level yang lebih tinggi.
“Target proyeksi 2026 tersebut masih belum cukup kuat menembus level penjualan di atas 1 juta unit seperti sebelum pandemi,” kata Agus. Pernyataan tersebut disampaikan saat Opening Ceremony Indonesia International Motor Show 2026 di Kemayoran, Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Menurut Agus, kondisi pasar saat ini menuntut kehati-hatian dalam menetapkan target. Pemerintah memilih pendekatan realistis agar proyeksi tidak terlalu jauh dari kondisi riil.
Pemulihan ekonomi nasional dinilai masih belum merata di semua sektor. Hal ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, termasuk untuk pembelian kendaraan bermotor.
Permintaan pasar disebut tetap menjadi faktor penentu utama kinerja industri otomotif ke depan. Tanpa peningkatan permintaan, pertumbuhan penjualan diperkirakan akan berjalan terbatas.
Pemerintah menilai dukungan kebijakan saja tidak cukup tanpa adanya perbaikan konsumsi rumah tangga. Oleh karena itu, pemulihan industri otomotif sangat bergantung pada kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Tekanan Pasar Domestik Sepanjang 2025
Data penjualan sepanjang 2025 menunjukkan bahwa pasar otomotif domestik masih berada dalam tekanan. Kondisi ini tercermin dari kinerja penjualan yang belum menunjukkan pemulihan signifikan.
Penjualan wholesale pada 2025 tercatat sebesar 803.687 unit. Angka ini turun 7,2% dibandingkan penjualan pada 2024 yang mencapai 856.723 unit.
Penurunan juga terjadi pada sisi penjualan ritel. Pada 2025, penjualan ritel tercatat sebanyak 833.712 unit.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan penjualan ritel pada 2024 yang mencapai 889.680 unit. Secara persentase, penjualan ritel mengalami penurunan sebesar 6,3%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada satu sisi distribusi. Penurunan terjadi secara menyeluruh baik di tingkat produsen maupun konsumen.
“Kontraksi ini mengindikasikan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada sisi distribusi, tetapi juga mencerminkan melemahnya permintaan riil di tingkat konsumen seiring belum pulihnya konsumsi rumah tangga,” ungkap Agus. Pernyataan ini menegaskan bahwa tantangan utama masih berada pada sisi permintaan.
Permintaan Konsumen Masih Jadi Tantangan
Belum pulihnya konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju penjualan mobil nasional. Masyarakat cenderung menunda pembelian barang tahan lama di tengah ketidakpastian ekonomi.
Kondisi tersebut membuat industri otomotif harus menyesuaikan strategi penjualan. Produsen dan dealer dituntut lebih adaptif dalam membaca kebutuhan pasar.
Pemerintah menyadari bahwa insentif dan stimulus memiliki keterbatasan jika daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, pemulihan ekonomi makro menjadi kunci penting.
Dalam situasi seperti ini, target penjualan 850.000 unit dinilai sebagai angka kompromi. Target tersebut dianggap mampu menjaga keberlangsungan industri tanpa mengabaikan kondisi pasar.
Pameran otomotif seperti IIMS 2026 menjadi salah satu upaya mendorong minat beli konsumen. Namun, dampaknya tetap sangat bergantung pada kesiapan finansial masyarakat.
Pemerintah berharap berbagai program pemulihan ekonomi dapat memberikan efek lanjutan bagi industri otomotif. Dengan begitu, permintaan kendaraan diharapkan dapat meningkat secara perlahan.
Ekspor Menjadi Penopang Industri Otomotif
Di tengah tekanan pasar domestik, kinerja ekspor justru memberikan kontribusi positif bagi industri otomotif nasional. Ekspor kendaraan utuh menjadi salah satu penopang utama kinerja sektor ini.
Sepanjang 2025, ekspor kendaraan completely built up tercatat mencapai 518.212 unit. Angka ini meningkat 9,7% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 472.194 unit.
Peningkatan ekspor tersebut menunjukkan bahwa permintaan dari pasar global masih terjaga. Industri otomotif nasional dinilai mampu bersaing di tengah persaingan internasional.
“Kinerja ini menunjukkan, Indonesia masih memiliki daya saing sebagai basis produksi otomotif global,” imbuh Agus. Pernyataan ini menegaskan posisi Indonesia dalam rantai produksi otomotif dunia.
Keberhasilan ekspor dinilai menjadi sinyal positif di tengah lesunya pasar domestik. Hal ini membantu menjaga utilisasi pabrik dan keberlanjutan tenaga kerja.
Pemerintah memandang ekspor sebagai salah satu strategi penting untuk menyeimbangkan tekanan pasar dalam negeri. Diversifikasi pasar menjadi kunci untuk menjaga stabilitas industri.
Ke depan, pemerintah berharap pertumbuhan ekspor dapat berjalan beriringan dengan pemulihan pasar domestik. Dengan demikian, industri otomotif nasional dapat tumbuh lebih seimbang dan berkelanjutan.
Target penjualan 2026 pun diharapkan menjadi pijakan awal menuju pemulihan yang lebih kuat. Pemerintah menilai konsistensi kebijakan dan perbaikan ekonomi akan sangat menentukan arah industri otomotif Indonesia ke depan.