JAKARTA - Pergerakan harga minyak global kembali menunjukkan dinamika yang sensitif terhadap isu geopolitik kawasan.
Fluktuasi tipis mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam membaca potensi gangguan pasokan di jalur perdagangan utama. Sentimen pasar tetap terjaga meski tensi politik belum sepenuhnya mereda.
Harga minyak sedikit turun pada hari Selasa karena pasar memperkirakan potensi gangguan pasokan setelah panduan Amerika Serikat untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz membuat perhatian tetap tertuju pada ketegangan antara Washington dan Teheran.
Penurunan ini terjadi setelah penguatan pada sesi sebelumnya yang dipicu sentimen keamanan pelayaran. Kondisi tersebut menandakan pasar masih merespons perkembangan geopolitik secara cepat.
Pada pukul 11.15 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman April 2026 turun 18 sen atau 0,26 persen menjadi US$ 68,85 per barel. Sejalan dengan itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Maret 2026 melemah 21 sen atau 0,33 persen ke US$ 64,15 per barel. Pergerakan ini menggambarkan koreksi ringan setelah kenaikan sebelumnya.
Sensitivitas Jalur Perdagangan
Kenaikan harga lebih dari satu persen pada hari sebelumnya menjadi latar bagi koreksi yang terjadi saat ini. Otoritas maritim Amerika Serikat memberikan panduan kepada kapal berbendera negaranya terkait jalur pelayaran di kawasan rawan. Rekomendasi ini menyoroti pentingnya mitigasi risiko bagi pelayaran komersial.
Panduan tersebut menyarankan kapal komersial berbendera Amerika Serikat untuk tetap berada sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran dan secara verbal menolak izin pasukan Iran untuk naik ke kapal jika diminta.
Imbauan ini meningkatkan perhatian pasar terhadap keamanan rute energi global. Langkah tersebut dinilai mempengaruhi persepsi risiko di pasar minyak.
Sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi secara global melewati Selat Hormuz antara Oman dan Iran. Jalur ini menjadi nadi utama pasokan energi dunia sehingga setiap peningkatan ketegangan berpotensi memicu gangguan besar. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut selalu berada dalam sorotan pelaku pasar.
Peran Negara Pengekspor
Iran bersama anggota OPEC lainnya menyalurkan sebagian besar minyak mentah melalui selat tersebut menuju berbagai pasar utama. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak menjadikan rute ini sebagai jalur ekspor penting. Dominasi pengiriman ke Asia memperlihatkan ketergantungan kawasan terhadap stabilitas Selat Hormuz.
Ketergantungan ini membuat dinamika geopolitik regional berdampak luas pada arus pasokan global. Setiap sinyal ketegangan dapat langsung tercermin pada harga dan premi risiko. Pasar cenderung memantau perkembangan politik sebagai indikator stabilitas suplai.
Pedoman pelayaran tersebut muncul di tengah pernyataan diplomatik yang bernada hati-hati namun optimistis. Pembicaraan nuklir yang dimediasi Oman dengan Amerika Serikat disebut telah dimulai dengan awal yang baik. Meski demikian, pasar tetap berhitung pada risiko eskalasi yang belum sepenuhnya hilang.
Risiko dan Premi Pasar
"Meskipun pembicaraan di Oman menghasilkan nada yang hati-hati namun positif, ketidakpastian yang masih ada mengenai potensi eskalasi, pengetatan sanksi, atau gangguan pasokan di Selat Hormuz telah mempertahankan premi risiko yang moderat," tulis Tony Sycamore dalam catatan klien.
Pandangan ini menegaskan bahwa faktor geopolitik tetap menjadi penggerak utama sentimen. Premi risiko dinilai bertahan meski ada sinyal diplomasi.
Di sisi lain, kebijakan sanksi global turut memengaruhi peta perdagangan minyak. Usulan perluasan sanksi terhadap Rusia mencakup pelabuhan di Georgia dan Indonesia yang menangani minyak Rusia. Langkah ini bertujuan memperketat tekanan terhadap sumber pendapatan utama Moskow.
Upaya tersebut merupakan bagian dari rangkaian kebijakan untuk membatasi aliran minyak Rusia terkait perang di Ukraina. Penargetan pelabuhan di negara ketiga memperluas cakupan tekanan sanksi. Kebijakan ini berpotensi menggeser arus perdagangan minyak global.
Pergeseran Arus Pembelian
Perubahan arah pembelian minyak mentah mulai terlihat di pasar Asia. India meningkatkan pembelian minyak dari Afrika Barat dan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan seiring upaya menghindari pasokan Rusia dalam perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Indian Oil Corp membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah, kata para pedagang. Pembelian ini mencerminkan penyesuaian strategi pasokan untuk menjaga fleksibilitas perdagangan. Pergeseran sumber pasokan dapat memengaruhi keseimbangan permintaan regional.
Kombinasi faktor geopolitik, kebijakan sanksi, dan penyesuaian rute perdagangan membentuk lanskap pasar minyak yang dinamis. Pelaku pasar cenderung mempertahankan sikap waspada sambil mencermati arah diplomasi dan kebijakan. Stabilitas jangka menengah akan sangat ditentukan oleh perkembangan di kawasan jalur energi utama.