Harta Djaya Karya Siapkan Akuisisi 45 Persen Saham Tambang Batu Bara Strategis di Sumatera Selatan

Kamis, 19 Februari 2026 | 09:51:12 WIB
Harta Djaya Karya Siapkan Akuisisi 45 Persen Saham Tambang Batu Bara Strategis di Sumatera Selatan

JAKARTA - PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA) menyiapkan langkah strategis untuk mengakuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP). Rencana ini ditargetkan mulai dilaksanakan pada kuartal III/2026, sebagai bagian dari ekspansi bisnis di sektor batu bara.

Detail Transaksi dan Nilai Akuisisi

Direktur Utama Harta Djaya Karya, Richie Adrian Hartanto S, menjelaskan bahwa nilai akuisisi sebesar Rp1,6 triliun. Nilai tersebut didasarkan pada kesepakatan awal yang merujuk pada transaksi serupa sebelumnya, meski masih menunggu hasil penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).

Nilai akuisisi ini tergolong signifikan jika dibandingkan dengan aset perseroan per Juni 2025, yang tercatat senilai Rp107,08 miliar. Manajemen menegaskan bahwa angka final akan mengikuti evaluasi KJPP untuk memastikan valuasi yang akurat dan adil bagi pemegang saham.

Richie menyatakan keyakinannya bahwa akuisisi ini akan memberikan manfaat konkret terhadap valuasi perseroan dan mendukung pertumbuhan jangka panjang. MEJA melihat TCP sebagai aset strategis yang dapat memperkuat posisi perusahaan di industri batu bara nasional.

Profil TCP dan Potensi Produksi

PT Trimitra Coal Perkasa memiliki konsesi luas mencapai 11.640 hektare di Sumatera Selatan. Berdasarkan laporan konsultan independen Faan Grobelaar & Associates asal Afrika Selatan, cadangan batubara TCP mencapai 693,7 juta ton.

TCP menargetkan memulai operasional produksi pada 2026, sejalan dengan kesiapan fasilitas tambang dan kontrak penjualan. Perusahaan juga sudah memiliki pembeli siaga, yaitu Argo Energy Pte. Ltd., bagian dari Banpu Group, dengan kontrak jangka satu tahun.

Sumber daya besar dan posisi strategis TCP di Sumatera Selatan menjadikannya aset bernilai tinggi. MEJA memandang konsesi ini sebagai peluang untuk memperluas kapasitas pasokan batu bara domestik dan ekspor.

Mekanisme Akuisisi dan Strategi Share Swap

Transaksi akuisisi dilakukan melalui mekanisme share swap inbreng saham secara bertahap. Tahap pertama ditargetkan terlaksana pada kuartal III/2026, menyesuaikan dengan perkembangan produksi dan kinerja TCP.

Manajemen menegaskan bahwa akuisisi ini tidak akan mengubah pengendalian perusahaan. Pemegang saham pengendali Harta Djaya Karya tetap mempertahankan kendali setelah transaksi selesai, sehingga risiko reverse acquisition atau backdoor listing dapat dihindari.

Pendekatan bertahap juga memberi fleksibilitas bagi perseroan untuk menyesuaikan strategi produksi dan keuangan. Mekanisme ini memastikan integrasi aset TCP berjalan efisien tanpa mengganggu operasi MEJA yang sudah berjalan.

Valuasi dan Proyeksi Keuangan

Dalam menilai nilai transaksi, Harta Djaya Karya menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini dianggap konservatif karena mengandalkan kinerja operasional TCP tanpa terpengaruh volatilitas pasar saham.

Proyeksi keuangan dibuat berdasarkan asumsi harga jual batubara sebesar US$26 per ton. Angka ini lebih konservatif dibanding informasi harga dari TCP yang berkisar antara US$28-US$32 per ton, sehingga memberikan buffer keamanan dalam perhitungan valuasi.

Dengan strategi valuasi ini, manajemen MEJA berusaha meminimalkan risiko dan memastikan transaksi memberikan hasil maksimal bagi pemegang saham. DCF juga memungkinkan perusahaan menilai prospek pendapatan masa depan secara realistis dan terukur.

Langkah akuisisi ini menjadi bagian dari rencana MEJA memperkuat portofolio batu bara. Targetnya adalah meningkatkan kontribusi produksi terhadap kebutuhan domestik sekaligus membuka peluang ekspor strategis di pasar global.

MEJA menilai bahwa TCP sebagai pemain potensial di sektor batu bara memiliki prospek pertumbuhan yang signifikan. Aset besar dan cadangan terukur memungkinkan perusahaan memperluas kapasitas produksi sesuai permintaan pasar.

Selain itu, kontrak pembelian dengan Argo Energy Pte. Ltd. memastikan penjualan awal dapat berjalan lancar. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menambah kepastian finansial dan operasional bagi MEJA setelah akuisisi.

Rencana ini juga mencerminkan strategi diversifikasi bisnis MEJA dalam sektor pertambangan. Akuisisi TCP memungkinkan perseroan memanfaatkan cadangan batu bara berkualitas dan meningkatkan skala operasi secara efisien.

Manajemen menekankan bahwa akuisisi 45% saham merupakan langkah yang strategis namun tetap terkendali. MEJA tetap menjaga stabilitas perusahaan sambil memanfaatkan peluang pertumbuhan jangka panjang di industri batubara.

Dengan akuisisi ini, perusahaan optimistis dapat memperkuat nilai pemegang saham. Langkah ini juga mendukung rencana jangka panjang MEJA dalam memperbesar kontribusi energi domestik melalui pasokan batu bara.

Selain itu, penilaian konservatif melalui DCF memberikan keyakinan bahwa transaksi ini aman dari fluktuasi harga pasar jangka pendek. Hal ini menambah kredibilitas strategi perusahaan dalam menjaga keuangan dan operasional tetap sehat.

Mekanisme share swap juga memberi keuntungan bagi kedua pihak dengan fleksibilitas pembayaran secara bertahap. Hal ini membantu memitigasi risiko keuangan dan mempermudah integrasi operasional kedua perusahaan.

Rencana akuisisi ini disiapkan dengan mempertimbangkan target produksi TCP pada 2026. MEJA ingin memastikan bahwa pertumbuhan kapasitas produksi dapat berjalan seiring dengan integrasi aset baru.

Dengan luas konsesi yang besar dan cadangan terukur, TCP menjadi proyek strategis yang menopang ekspansi MEJA di industri batu bara. Proyek ini juga menambah diversifikasi sumber daya perseroan dan meningkatkan daya saing di pasar nasional maupun internasional.

Manajemen MEJA yakin bahwa eksekusi akuisisi ini akan menciptakan sinergi operasional dan finansial. Hal ini akan memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu pemain utama batu bara di Indonesia.

Selain itu, transaksi ini menjadi salah satu langkah proaktif perusahaan dalam menghadapi permintaan batubara domestik yang terus meningkat. MEJA menargetkan pertumbuhan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan listrik dan industri nasional.

Dengan mekanisme bertahap, metode valuasi konservatif, dan kontrak pembeli yang sudah ada, akuisisi TCP diproyeksikan memberikan keuntungan strategis. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi ekspansi dan keberlanjutan pertumbuhan MEJA di sektor batu bara.

Terkini