JAKARTA - Nasi uduk dan ayam goreng menjadi ikon kuliner Jakarta yang digemari lintas generasi. Meski banyak tempat makan modern bermunculan, warung-warung sederhana tetap bertahan berkat cita rasa yang konsisten.
Harumnya nasi uduk menggugah selera dan lauk ayam goreng hadir dengan beragam gaya. Dari ayam kampung berbumbu ungkep khas Betawi hingga gorengan renyah di luar dan empuk di dalam, semuanya memikat lidah.
Nasi Uduk Gondangdia, Legendaris Sejak 1993
Nasi Uduk Gondangdia berdiri sejak 1993 dan masih digemari hingga kini. Berlokasi di kawasan Cikini, warung sederhana ini menyajikan nasi uduk pulen dan harum santan dalam bungkus daun pisang berbentuk kerucut khas.
Pilihan lauk sangat beragam, mulai dari ayam goreng, ayam bakar, empal, babat, hingga sate-satean, dengan harga terjangkau dari Rp 20.000. Ayam gorengnya gurih dan berpadu sempurna dengan taburan bawang goreng melimpah.
Keistimewaan lainnya terletak pada sambal kacang ikonik dan sambal rawit merah. Meskipun banyak nasi uduk modern bermunculan, tempat ini tetap mempertahankan pelanggan setia.
Nasi Uduk H. Toha, Favorit Sejak 1970-an
Nasi Uduk H. Toha telah ada sejak 1970-an dan menjadi favorit warga Cikini. Warung ini terkenal dengan nasi uduk tanpa santan sehingga rasanya ringan namun tetap gurih dan nikmat.
Beragam lauk tersedia mulai dari ayam goreng, telur, tempe, tahu, hingga jeroan. Ayam goreng menjadi menu andalan karena teksturnya empuk dan bumbunya meresap hingga ke dalam daging.
Tempat ini cocok untuk makan malam sederhana namun memuaskan. Keberadaannya menegaskan Cikini sebagai pusat kuliner legendaris Jakarta yang wajib dikunjungi.
Ayam Goreng Mat Lengket, Ikon Betawi Sejak 1973
Ayam Goreng Mat Lengket telah hadir sejak 1973 dan dikenal sebagai salah satu warung nasi uduk legendaris. Tempat ini bahkan pernah dikunjungi Presiden Joko Widodo untuk mencicipi menu andalannya.
Sajian utamanya meliputi ayam goreng, ati ampela, semur jengkol, hingga kulit ayam. Ayam kampung goreng berbumbu ungkep kuning khas Betawi menjadi keistimewaannya karena gurih dan meresap hingga ke dalam daging.
Disajikan dengan nasi uduk hangat, rasanya semakin nikmat. Harga tetap terjangkau, mulai Rp 9.200 untuk nasi uduk dan Rp 21.000 per potong ayam, meski antrean sering padat sejak viral.
Nasi Uduk Kebon Kacang A. Maulana, Sajian Sejak 2005
Nasi Uduk Kebon Kacang A. Maulana berdiri di Jalan Pemuda III, Rawamangun, Jakarta Timur, sejak 2005. Nasi uduknya gurih dan harum, berpadu dengan ayam goreng berbumbu meresap serta daging empuk.
Lauk tambahan tersedia mulai dari tahu dan tempe goreng hingga paru, cumi, udang, dan menu bakaran. Harga nasi uduk mulai Rp 8.500, sedangkan lauk dibanderol dari Rp 8.000, ramah di kantong bagi semua pengunjung.
Tempat ini menawarkan pengalaman makan sederhana namun memuaskan. Pelanggan setia kembali karena cita rasa yang konsisten sejak awal berdiri.
Nasi Uduk Pasar Thomas, Populer Karena Ragam Lauk Melimpah
Nasi Uduk Pasar Thomas di Gambir, Jakarta Pusat, terkenal karena pilihan lauk yang banyak dan cita rasa lezat. Sejak buka pada 2007, warung ini ramai pengunjung bahkan sejak sore hingga dini hari.
Pilihan lauk lengkap mulai dari telur, ayam goreng, bihun, orek tempe, semur jengkol, tahu, hingga aneka gorengan. Seporsi nasi uduk lengkap dengan berbagai lauk bisa dinikmati hanya dengan Rp 17.000, harga yang sangat terjangkau.
Warung ini semakin populer karena ulasan dari YouTuber dan food vlogger. Antrean panjang menjadi pemandangan biasa karena rasanya yang konsisten dan memuaskan pelanggan.
Warung Nasi Uduk Legendaris Tetap Bertahan di Tengah Persaingan Modern
Kelima warung nasi uduk ini membuktikan bahwa cita rasa dan konsistensi lebih penting daripada tampilan modern. Dengan harga terjangkau, sambal yang menggugah selera, dan cerita panjang, mereka tetap bertahan puluhan tahun.
Keberadaan warung-warung ini juga menjadi saksi sejarah kuliner Jakarta. Para penikmat kuliner, baik generasi lama maupun muda, tetap mengunjungi tempat-tempat ini untuk menikmati nasi uduk dan ayam goreng legendaris.