OJK

OJK Catat Pembiayaan Modal Ventura Indonesia Tetap Tumbuh Meski Melambat di Akhir 2025

OJK Catat Pembiayaan Modal Ventura Indonesia Tetap Tumbuh Meski Melambat di Akhir 2025
OJK Catat Pembiayaan Modal Ventura Indonesia Tetap Tumbuh Meski Melambat di Akhir 2025

JAKARTA - Menjelang penutupan tahun 2025, industri pembiayaan modal ventura di Indonesia menunjukkan sinyal pertumbuhan yang tetap terjaga. Namun, di balik angka positif tersebut, terdapat dinamika perlambatan yang mencerminkan perubahan strategi pelaku industri.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat pembiayaan modal ventura masih mengalami peningkatan hingga Desember 2025. Pertumbuhan ini menandakan aktivitas pembiayaan tetap berlangsung di tengah penyesuaian kondisi ekonomi dan pasar.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, memaparkan data terkini terkait sektor tersebut. Ia menyampaikan nilai pembiayaan modal ventura tercatat sebesar Rp 15,97 triliun per Desember 2025.

Angka tersebut menjadi gambaran kondisi industri yang masih bertahan di jalur pertumbuhan. Meski demikian, laju pertumbuhannya tidak secepat periode-periode sebelumnya.

"Nilai pembiayaan per Desember 2025 tumbuh sebesar 0,82% Year on Year (YoY)," ucap Agusman dalam konferensi pers RDK OJK, Jumat 9 Januari 2026. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kinerja industri masih mencatatkan ekspansi tahunan.

Data tersebut sekaligus menunjukkan adanya perlambatan jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Tren ini menjadi perhatian karena mencerminkan perubahan pola investasi di sektor modal ventura.

Perlambatan Pertumbuhan Dibandingkan Bulan Sebelumnya

Berdasarkan data OJK, pertumbuhan pembiayaan modal ventura per Desember 2025 terlihat melambat dibandingkan posisi November 2025. Pada bulan sebelumnya, pembiayaan modal ventura tumbuh sebesar 1,2% YoY.

Nilai pembiayaan pada November 2025 tercatat mencapai Rp 16,29 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi Desember yang berada di bawah Rp 16 triliun.

Perbedaan ini menunjukkan adanya penyesuaian portofolio yang dilakukan oleh perusahaan modal ventura. Pelaku industri cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, dinamika industri terlihat semakin jelas. Kondisi per Oktober 2025 bahkan menunjukkan adanya kontraksi.

Agusman menjelaskan pembiayaan modal ventura pada Oktober 2025 mencapai Rp 16,3 triliun. Pada periode tersebut, industri mengalami kontraksi sebesar 0,12% YoY.

Data ini menggambarkan bahwa pertumbuhan di akhir tahun terjadi setelah melalui fase tekanan. Industri tampak mulai menemukan titik keseimbangan baru.

Aset Industri Modal Ventura Tetap Meningkat

Di tengah perlambatan pembiayaan, OJK mencatat nilai aset industri modal ventura tetap mengalami peningkatan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa fondasi industri masih relatif kuat.

Nilai aset industri modal ventura per Desember 2025 tercatat sebesar Rp 27,57 triliun. Angka tersebut meningkat 1,17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagai perbandingan, nilai aset pada Desember 2024 berada di level Rp 27,25 triliun. Kenaikan ini menunjukkan adanya akumulasi aset meski aktivitas pembiayaan melambat.

Pertumbuhan aset mencerminkan pengelolaan portofolio yang lebih selektif. Perusahaan modal ventura dinilai lebih fokus menjaga kualitas investasi yang sudah ada.

Kondisi ini sejalan dengan pandangan pelaku industri yang menyebut tahun 2025 sebagai masa konsolidasi. Aktivitas investasi tetap berjalan, namun dengan pendekatan yang lebih hati-hati.

Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia menilai konsolidasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri. Strategi tersebut dinilai relevan dengan kondisi pasar saat ini.

Pendekatan Investasi Lebih Selektif dan Berorientasi Kualitas

Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia sebelumnya menyatakan bahwa 2025 merupakan periode konsolidasi bagi industri. Dalam fase ini, investasi tidak dihentikan, tetapi diarahkan secara lebih selektif.

Kepala Bidang Media & Hubungan Masyarakat Amvesindo, Novrizal Pratama, menjelaskan perubahan pendekatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa perusahaan modal ventura kini lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas investasi.

Menurut Novrizal, fokus utama diberikan kepada start-up yang telah memiliki traksi pendapatan. Selain itu, kejelasan unit ekonomi menjadi salah satu pertimbangan penting.

Perusahaan modal ventura juga semakin menekankan jalur menuju profitabilitas yang realistis. Aspek tata kelola, transparansi, dan manajemen risiko menjadi perhatian utama.

Pendekatan ini mencerminkan pembelajaran dari siklus investasi sebelumnya. Industri berupaya mengurangi risiko dengan memilih perusahaan yang memiliki fondasi bisnis lebih kuat.

Langkah selektif tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem start-up yang lebih sehat. Dalam jangka panjang, strategi ini dinilai mampu meningkatkan daya tahan industri.

Prospek Industri Modal Ventura Menuju 2026

Amvesindo memproyeksikan industri modal ventura Indonesia akan memasuki fase yang lebih stabil dan matang pada 2026. Stabilitas ini diharapkan muncul seiring berjalannya proses konsolidasi.

Novrizal menyampaikan bahwa fokus investasi ke depan akan semakin terarah. Perusahaan modal ventura diperkirakan akan menyasar sektor-sektor dengan nilai tambah tinggi.

Beberapa sektor yang menjadi perhatian antara lain Enterprise dan Business-to-Business solutions. Termasuk di dalamnya Software as a Service serta solusi digital untuk efisiensi operasional perusahaan dan UMKM.

Selain itu, sektor logistik dan supply chain juga dinilai memiliki peran strategis. Sektor ini dianggap sebagai tulang punggung perdagangan dan distribusi nasional.

Sektor lain yang difokuskan meliputi healthtech dan agritech. Kedua sektor tersebut dinilai mendukung ketahanan kesehatan dan pangan nasional.

Tak hanya itu, investasi juga diarahkan pada climate-related solutions dan teknologi efisiensi energi. Langkah ini sejalan dengan agenda keberlanjutan yang semakin menguat.

Sektor manufacturing enablement dan deep tech terapan turut menjadi sasaran investasi. Kedua sektor ini dinilai mampu mendorong produktivitas dan daya saing industri.

"Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki potensi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang karena didukung oleh kebutuhan pasar yang nyata, skala ekonomi domestik Indonesia, serta relevansi terhadap agenda pembangunan nasional," ujarnya dalam keterangan resmi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index